Breaking

Tips Beternak Kalkun Dari Iwan Suryolaksono

wikipedia.org

Beternak ayam kampung atau ayam negeri sudah menjadi hal yang biasa dan sudah menjamur di mana-mana. Tapi, bagaimana dengan ternak ayam besar, misalnya saja ayam kalkun? Untuk mengawali usaha ternak ayam kalkun setidaknya dibutuhkan ilmu peternakan yang cukup untuk menghindari kerugian akibat matinya kalkun karena salah rawat.

Untuk menunjang itu semua seorang peternak kalkun asal Ciwaruga, Bandung, Jawa Barat, sebut saja Iwan Suryolaksono menganjurkan selain manajemen perawatan yang baik dan benar infrastruktur pendukung seperti kandang juga harus dibangun sesuai dengan karateristik kalkun.

Baca juga:

30 Jenis Ayam Hias Yang Menarik Untuk Dipelihara
Ayam Brahma Dengan Ukuran Jumbo Berharga Fantastis  


Untuk kandangnya sendiri, kata Iwan, kalkun yang berumur 0-1 bulan  membutuhkan kandang boks seluas 1x1 m2, dengan tinggi 60 cm dan diberi penerangan lampu sebagai sumber penghangat. Kandang bisa menggunakan material bambu maupun kayu yang rapat.

Di usia 2-4 bulan, ayam dipindahkan ke kandang yang lebih besar dengan ukuran 1,5 m2, tinggi 120 cm dan sudah tak memerlukan lampu penghangat. Dengan ukuran tersebut bisa  diisi 5-6 ekor kalkun.

“Posisi kandang bisa dibuat dengan konsep rumah panggung berjarak 1,5 meter dari tanah atau menggunakan metode tapak, dimana tanah sudah dilapisi pasir zeolite untuk membantu mengurai kotoran kalkun,” beber Iwan.

Lanjut Iwan, di usia 2-4 bulan, kalkun sengaja masih disatukan dalam kandang koloni karena dibesarkan dalam kandang individu dapat memicu stress yang berakibat kematian. Kalkun baru bisa hidup soliter setelah usia 4 bulan. Setelah usia 4 bulan pisahkan kalkun menurut jenis kelamin dan usia. Buat kandang ukuran lebih besar dengan sekat 1 kandang berisi 1 ekor kalkun.

Langkah selanjutnya adalah menentukan jenis kelamin kalkun untuk memudahkan proses perkawinan. Jika pada unggas lain sering dilakukan dengan mengamati kloaka (lubang dubur), maka pada ayam kalkun lain lagi. Pada kalkun jantan ada semacam benjolan di leher. Para peternak seperti Iwan biasa menamai benjolan ini dengan nama puser atau pusar. Pusar ini berupa tonjolan yang kelak akan ditumbuhi rambut. Jika terdapat tonjolan, dapat dipastikan kalkun tersebut adalah kalkun jantan.

Pada kalkun jantan, gelambir bagian bawah lebih lebar dan terdapat benjolan yang lebih besar-besar. Yang terakhir, tonjolan pial (bagian yang bergelambir) di atas paruh pada kalkun jantan usia tiga bulan lebih panjang dan bisa ditarik. Jenis kelamin pada kalkun baru dapat terlihat setelah usia 3-4 bulan.

Langkah berikutnya yaitu perawatan, lepaskan kalkun dari kandang minimal 2 hari sekali ke area yang lapang untuk menghindari kalkun stres, selain itu dengan dilepas biarkan kalkun memiliki waktu untuk kawin. Lamanya kawin bisa mencapai 10 menit, dalam 1 hari kalkun jantan dapat mengawini hingga 6 kalkun betina. Jantan yang sedang birahi ditandai dengan memerahnya warna pial.

“Perawatan juga wajib dilakukan pembersihan kandang dari segala macam kotoran yang melekat, usahakan kandang selalu terjaga kebersihannya. Jika cuaca dingin datang berilah penghangat dengan lampu secukupnya. Selalu lakukan cek lapangan setiap hari untuk memastikan kalkun selalu dalam kondisi sehat,” ujar Iwan.

Langkah keempat yang harus diperhatikan dalam beternak kalkun ialah asupan pakan. Menurut Iwan, dalam 1 hari alangkah baiknya kalkun diberikan pakan 4 kali. Komposisi pakan bisa  berupa daun kelor, kedebog pisang, sawi, dedak dan konsetrat dengan perbandingan 30-30%. Rajang sayuran hingga halus lalu aduk rata campurkan sedikit air. Takarannya berikan pakan sebanyak 1 gayung untuk 1 kalkun dewasa usia 5 bulan ke atas dan 1 gayung untuk 5 kalkun usia 2-4 bulan. Selain pakan juga berikan air, 1 ekor kalkun dewasa usia 5 bulan setiap hari membutuhkan 250ml air.

Terakhir adalah cara merawat telur ketika kalkun mulai berproduksi. Kalkun akan bertelur sebanyak 1 butir per hari, dengan  masa pengeraman 24-28 hari. Perawatannya agar telur kalkun bisa menetas ialah dengan cara dierami menggunakan mesin tetas dengan suhu 37-38 °C.

“Pengeraman secara alami juga dianjurkan karena memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi sekitar 75% ketimbang pengeraman memakai mesin penetas 60%,” pungkas Iwan.