Breaking

Thursday, 25 August 2016

Mengenal Ayam Hutan Hijau


1. Penyebaran dan Kebiasaan
Ayam yang menyukai daerah terbuka dan berpadang rumput, tepi hutan dan daerah dengan bukit-bukit rendah dekat pantai. Ayam-hutan Hijau diketahui menyebar terbatas di Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara termasuk Bali. Di Jawa Barat tercatat hidup hingga ketinggian 1.500 m dpl, di Jawa Timur hingga 3.000 m dpl dan di Lombok hingga 2.400 m dpl.

Pagi dan sore ayam ini biasa mencari makanan di tempat-tempat terbuka dan berumput, sedangkan pada siang hari yang terik berlindung di bawah naungan tajuk hutan. Ayam-hutan Hijau memakan aneka biji-bijian, pucuk rumput dan dedaunan, aneka serangga, serta berbagai jenis hewan kecil seperti laba-laba, cacing, kodok dan kadal kecil.

Baca juga: 30 Gambar Ayam Hias Dari Berbagai Negara

Ayam ini kerap terlihat dalam kelompok, 2 – 7 ekor atau lebih, mencari makanan di rerumputan di dekat kumpulan ungulata besar seperti kerbau, sapi atau banteng. Selain memburu serangga yang terusik oleh hewan-hewan besar itu, Ayam-hutan Hijau diketahui senang membongkar dan mengais-ngais kotoran herbivora tersebut untuk mencari biji-bijian yang belum tercerna, atau serangga yang memakan kotoran itu.

Pada malam hari, kelompok ayam hutan ini tidur tak berjauhan di rumpun bambu, perdu-perduan, atau daun-daun palem hutan pada ketinggian 1,5 – 4 m di atas tanah.

Ayam hutan hijau berbiak antara bulan Oktober-Nopember di Jawa Barat dan sekitar Maret-Juli di Jawa Timur. Sarang dibuat secara sederhana di atas tanah berlapis rumput, dalam lindungan semak atau rumput tinggi. Telur 3-4 butir berwarna keputih-putihan.

Tak seperti keturunannya ayam kampung, Ayam-hutan Hijau pandai terbang. Anak ayam hutan ini telah mampu terbang menghindari bahaya dalam beberapa minggu saja. Ayam yang dewasa mampu terbang seketika dan vertikal ke cabang pohon di dekatnya pada ketinggian 7 m atau lebih. Terbang mendatar, Ayam-hutan Hijau mampu terbang lurus hingga beberapa ratus meter; bahkan diyakini mampu terbang dari pulau ke pulau yang berdekatan melintasi laut.

Pagi dan petang hari, ayam jantan berkokok dengan suaranya yang khas, nyaring sengau. Mula-mula bersuara cek-kreh.. berturut-turut beberapa kali seperti suara bersin, diikuti dengan bunyi cek-ki kreh.. 10 – 15 kali, dengan jeda waktu beberapa sampai belasan detik, semakin lama semakin panjang jedanya. Kokok ini biasanya segera diikuti atau disambut oleh satu atau beberapa jantan yang tinggal berdekatan. Ayam betina berkotek mirip ayam kampung, dengan suara yang lebih kecil-nyaring, di pagi hari ketika akan keluar tempat tidurnya.

2. Ayam Hutan Hijau Yang Mempesona

Bila diamati sosok ayam hutan hijau yang jantan, maka dari jengger sampai ke ekor penuh dengan warna-warna yang beragam dan indah. Jenggernya yang tidak bergerigi berwarna unik, campuran ungu, merah, dan biru muda. Warna bulunya sendiri dominan hijau terang dengan bintik-bintik kuning di bagian sayapnya. Bila terkena cahaya, timbul warna-warni seperti pelangi.

Sayang, sosok si betina tidak semenarik yang jantan. Warna bulunya biasa saja, cokelat dengan bintik-bintik kuning pada bagian kepala sampai leher. Walau demikian, ayam hutan betina ini juga dibutuhkan untuk kelanjutan generasinya.

Ukuran badannya termasuk kecil bila dibandingkan dengan ayam kampung, yang jantan sekitar 30 cm dan yang betina 25 cm. Menurut Ir. Buyung Taurin, ketua jurusan Reproduksi dan Kebidanan Fakultas Kedokteran Hewan IPB, sifat ayam ini merupakan peralihan dari sifat burung ke ayam, yakni mencari makan dan bertelur di “bawah” namun tidurnya di pohon-pohon. Selain itu sifatnya liar sekali dan sulit dijinakkan. Meskipun sudah lama ditangkarkan, bila dipindahkan ke kandang baru dengan lingkungan yang baru pula ia akan kembali liar. “Kalau diganggu bisa stres dan akhirnya mati”, ujar Ali Thamin, SH, penangkar ayam hutan hijau di Jakarta.

Suara ayam ini juga mempesona. Frekuensi suaranya rapat dan beramplitudo tinggi. Karena suara uniknya ini pula ayam hutan hijau jantan banyak dicari untuk dikawinkan dengan ayam kampung betina, agar diperoleh ayam bekisar yang bersuara bagus.

3. Jumlah Telur Lebih Banyak

Ayam hutan hijau ternyata lebih produktif daripada ayam kampung. Betinanya bisa menghasilkan tidak kurang dari 40 butir semusim (sebagai perbandingan, ayam kampung hanya memproduksi telur 12 – 18 butir/musim). Syaratnya, ada sepasang atau sekelompok kecil populasi hidup di daerah yang lingkungannya disukai, cukup pakan dan hanya sedikit musuh alami.

Di habitat aslinya, ia meletakkan telurnya dalam sarang di atas tanah atau di bawah naungan semak-semak. Musim bersarangnya tidak tetap sepanjang tahun, biasanya bulan Juni sampai November. Dalam sarang biasanya terdapat 6 – 10 butir telur, besarnya kurang lebih 44,5 mm x 34,5 mm. Telur yang putih kekuningan polos itu menetas setelah 21 hari. Anak ayam hutan ini rentan, mudah terinfeksi bibit penyakit, sehingga perlu dilindungi.

4. Makan Biji-bijian dan Serangga

Ayam hutan termasuk pemakan biji-bijian dan serangga. Saat dilakukan pembedahan, di perutnya sering ditemukan rayap, semut hitam, nyamuk, lalat, laba-laba dan ulat pisang. Selain itu, ada juga buah pohon Hyptis dan Rottbidia serta daun lantana. Dari pengamatan lapangan, ternyata ayam hutan hijau suka mematuki kotoran babi hutan, banteng, atau kerbau liar untuk mendapatkan biji-bijian yang tidak tercerna, serangga pemakan kotoran, dan air yang masih terkandung di dalamnya. Di lingkungan penangkaran, biasanya ayam hutan hijau ditempatkan dalam kandang burung. Dalam kandang itu, ayam hutan hijau jantan berumur 1,5 tahun dipasangkan dengan betina berumur setahun. Menu untuknya berupa beras merah setengah ons/hari dan ketan hitam. Sebagai variasi disajikan kangkung 2 hari sekali dan pepaya atau pisang setiap 3 hari. Serangga seperti jangkrik, ulat pisang, atau rayap pun tidak ketinggalan sebagai pelengkap menu. Jatah hariannya tidak boleh terlalu banyak, cukup ¼ bagian dari jatah untuk ayam kampung.

Baca juga:
Kehebatan Ayam Cemani  
Membudidayakan Ayam Bekisar Yang Menguntungkan

5. Bahaya Predator Alam Bagi Ayam Hutan Hijau
Kebanyakan ayam hutan lebih suka mendiami hutan lebat di pedalaman. Berbeda dengan kerabatnya, ayam hutan hijau hidup di lembah-lembah dekat pantai atau di semak-semak dan belukar yang berbatasan dengan lahan terbuka. Ketika siang hari mereka bersembunyi untuk menghindari teriknya matahari dan musuh alami.

Musuh alami yang mengancam dan mengintainya cukup banyak, di antaranya musang, rase, macan tutul, kucing hutan, garangan, elang, ular, dan biawak. Bila ayam hutan sampai ditemukan binatang-binatang tersebut, ia bakal menemui ajalnya jadi santapan mereka. Di samping itu, bahaya lainnya datang dari babi hutan yang suka memangsa telurnya. Itulah sebabnya, ia hanya berkeliaran di pagi dan sore hari. Tepat sebelum malam tiba, ia kembali dari pengembaraannya mencari pakan di ladang-ladang dan tanah terbuka.

Ayam hutan hijau melewatkan malam hari dengan tidur di atas pohon-pohon dari pukul 17.30 – 04.30. pohonnya pun tidak sembarang jenis. Mereka memilih pohon mimba (Azadirachta indica), krasak (Ficus superba) atau kesambi (Schleichera oleosa). Biasanya mereka hidup sendiri atau dalam kelompok kecil beranggotakan 2 – 4 ekor. Kadang-kadang ada juga dijumpai kelompok besar yang mencapai 15 ekor anggotanya.

6. Bahan Pembuat Bekisar
Ayam hutan jantan sudah lama dijadikan peliharaan di daerah asalnya – Jawa, Madura dan Bali. Di lokasi ini si jantan disilangkan dengan ayam kampung betina (Gallus domesticus) menghasilkan bekisar yang bersuara panjang dan keras. Paduan warna bulunya bermacam-macam sehingga muncul nama-nama bekisar berdasarkan warna bulunya. Ada bekisar putih, multi warna, merah dan sebagainya. Saking terkenalnya ayam hutan ini, di Jawa Timur bekisar dijadikan maskot. Bekisar jantan berukuran lebih besar dari ayam hutan hijau, sedangkan betinanya menghasilkan telur kecil yang tidak dibuahi.

Ternyata penyilangan ayam hutan tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Cleres (Perancis) pun pernah dilakukan perkawinan antara betina hasil silangan ayam hutan hijau dan merah dengan ayam hutan hijau. Dari ratusan silangan, Cuma satu telur yang menetas. Itu pun kondisinya lemah dan tidak bisa diselamatkan. Dua spesies ayam hutan itu memang tidak mau kawin di habitat alamnya. Di jawa khususnya, populasi ayam hutan hijau lebih banyak di Jawa Barat. Sedangkan di Jawa Timur populasi ayam hutan merah yang lebih banyak. 

Thanks for: ngasih.com, wikipedia.org