Breaking

Ayam Hutan Merah Sebagai Cikal Bakal Ayam Peliharaan

Ciri-Ciri Ayam Hutan Merah yang Asli

Ayam hutan merah memiliki variasi ciri fisik yang sangat beraneka ragam. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama faktor lingkungan seperti habitat, ketinggian, kondisi geografis dan lain-lain.
Di India, ayam hutan merah (sub-spesies murghii) dari daerah utara yang didominasi oleh pegunungan bersuhu dingin, memiliki rata-rata ukuran tubuh yang lebih besar dengan bulu leher yang lebih lebat dan panjang, dibandingkan dengan ayam hutan merah (sub-spesies murghii), dari dataran yang lebih rendah di selatan.

Satu-satunya sub-spesies ayam hutan merah yang paling kuat karakter fisiknya, adalah ayam hutan merah subspesies bankiva, dari Indonesia. Ciri fisik yang paling menonjol dari ayam ini adalah bulu leher yang pendek, dengan ujung bulu membulat (tidak runcing).

Akibat isolasi selama ribuan tahun, subspesies bankiva juga memiliki komposisi genetik unik,  yang agak jauh berbeda dari subspesies ayam hutan lainnya. Di duga, subspesies bankiva merupakan varian ayam hutan yang berumur lebih tua.

Salah satu kendala utama dalam usaha konservasi ayam hutan merah, adalah makin langkanya ayam hutan yang masih benar-benar berdarah murni atau asli. Hal ini disebabkan oleh adanya kontaminasi genetik dari sub-spesies ayam yang lain, terutama ayam kampung (Gallus gallus domesticus).

Perkawinan antara 2 subspesies ayam yang berbeda, dalam hal ini: ayam hutan merah vs ayam kampung, sangat mungkin terjadi, karena 2 ayam tersebut berasal dari satu spesies yang sama (Gallus gallus). Ayam hasil perkawinan silang (hybrid) ini, di Jawa dan Sumatera Selatan, dikenal sebagai ayam Brugo atau Bruga atau Bruge (istilah ayam Brugo akan terus kami gunakan dalam postingan kali ini).

Perkawinan silang (cross breeding) antara ayam hutan merah dengan ayam kampung, seringkali terjadi secara alami di tepi hutan yang berbatasan dengan pemukiman penduduk.

Dari sisi konservasi, “perselingkuhan” ini sangat merugikan, karena akan menurunkan kualitas genetik dan menyebabkan hilangnya sumber plasma nutfah asli, dari populasi ayam hutan di daerah tersebut. Kontaminasi gen ayam hutan oleh ayam kampung ini dikenal sebagai: polusi genetik.

Bagi kebanyakan orang, membedakan ayam jantan hasil kawin silang (Brugo) dengan ayam hutan jantan yang asli, agak sulit dilakukan, karena kedua ayam tersebut seringkali memiliki ciri fisik yang nyaris serupa. Meskipun demikian, sebagai burung liar,  ayam hutan asli masih memiliki ciri khusus yang tidak ditemukan pada ayam Brugo.


Gambar di atas adalah profil ayam hutan asli yang ideal. Bentuk kepala kecil, jengger dan gelambir juga kecil, bulu lebat, mengkilap dan tersusun rapi. Kaki ramping abu-abu kebiruan. Ayam hutan tidak harus selalu bercuping putih. Pada gambar ayam hutan di atas, cuping telinga berwarna merah. Sumber: Burrard-Lucas.com.

Berikut ini beberapa ciri-ciri ayam hutan asli yang kami kutip darihttp://ayamhutan.tripod. com/junglefowl.html dan beberapa website lainnya. Jika salah satu saja, dari ciri ayam hutan yang diuraikan di bawah ini, tidak ditemukan pada tubuh ayam yang diperiksa, maka hampir dapat dipastikan, ayam tersebut adalah ayam Brugo.

a. Bentuk tubuh yang ramping
Ayam hutan yang masih berdarah murni (asli), memiliki bentuk tubuh yang ramping. Rata-rata ukuran tubuhnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan ayam kampung.Gerakannya gesit dan cepat. Memiliki kemampuan terbang yang baik. Kewaspadaan nya tinggi.  Kemampuan seperti ini sangat penting bagi ayam hutan yang hidup di alam liar, karena banyaknya ancaman dari hewan pemangsa.
Sebaliknya, ayam Brugo atau ayam kampung, memiliki tubuh yang lebih gempal, lebih berotot dengan bobot yang lebih berat.

Akibat proses domestikasi selama ratusan bahkan ribuan tahun, ayam kampung sudah tidak lagi memiliki ciri-ciri seperti ayam hutan. Ayam kampung boleh dikatakan, hidup di habitat yang lebih nyaman dan “modern”.

Ayam kampung tidak perlu bersusah payah mencari makanan, karena setidaknya pemiliknya akan memberi makan setiap hari. Jika tidak diberi makan, makanan sisa yang dibuang atau sumber makanan yang lain, juga masih dapat ditemukan dengan mudah di sekitar perkampungan/pemukiman.
Ayam kampung juga merasa lebih aman hidup dekat dengan manusia. Predator alami ayam hutan seperti kucing hutan, burung elang, ular, musang dan lain-lain, nyaris tidak ditemukan di sekitar perkampungan. Oleh sebab itu, kewaspadaan dan kemampuan terbang yang baik juga tidak diperlukan.

Banyaknya makanan dan kurangnya gerak, menyebabkan ayam kampung bertubuh lebih gempal dan lamban. Jika ayam kampung kawin dengan ayam hutan, gen gempal dari ayam kampung akan diturunkan ke ayam brugo. Itulah sebabnya, mengapa ayam Brugo tidak selangsing ayam hutan.


Gambar di atas adalah perbedaan bentuk tubuh dari pejantan ayam kampung atau ayam Brugo (kiri) dengan ayam hutan merah (kanan).

b. Kepala,Jengger/Pial dan Pial berukuran kecil
Ayam hutan merah yang asli memiliki bentuk kepala yang kecil. Jenggernya selalu berpial bilah atau pial tunggal bergerigi yang tipis. Sepasang gelambir yang menggantung di dagu berukuran kecil. Cuping telinga juga kecil atau sedang, berwarna putih atau merah. Ayam hutan yang asli, tidak harus selalu bercuping putih (Gambar 12). Bulu leher ayam hutan sangat lebat dan berwarna lebih cerah. Warna jengger, gelambir dan muka terlihat agak pucat (merah jambu atau pink) di luar musim berbiak. Sedangkan saat musim kawin tiba, bagian muka, jengger dan gelambirnya berwarna merah cerah. Kemungkinan konsentrasi hormon reproduksi berpengaruh terhadap warna jengger ini.

Ayam kampung atau ayam Brugo, sebaliknya memiliki kepala, pial dan gelambir yang besar dan kasar. Bulu leher lebat dengan warna yang agak kusam. Perbedaan kepala ayam hutan jantan yang asli dengan ayam jantan Brugo dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.

Gambar di bawah adalah perbedaan kepala Ayam hutan jantan (kiri) dengan ayam kampung jantan atau ayam Brugo (kanan).
Ayam hutan betina yang asli, tidak pernah memiliki jengger dan gelambir sedikit pun.Kalaupun ada, ukurannya sangat kecil. Wajah berwarna merah jambu (pink) dengan warna bulu coklat kuning keemasan yang melingkar di sekeliling wajah. Bulu leher berwarna hitam dengan tepi bulu berwarna kuning emas yang tipis. Penutup telinga berwarna kuning kecoklatan. Bulu dada berwarna coklat emas kemerahan. Kepala ayam hutan betina yang asli dapat dilihat pada gambar di bawah (kiri).


Gambar di atas adalah ciri spesifik ayam hutan betina. Kepala ayam hutan betina yang asli (kiri), kepala betina Brugo dengan warna bulu berwarna putih keperakan (tengah), kepala betina Brugo dengan jengger/pial dan sepasang gelambir serta warna bulu leher yang lebih cerah (kanan). Sumber: http://ayamhutan.tripod.com/junglefowl.html

c. Terjadinya gugur bulu (moulting) di leher
Salah satu perbedaan yang paling menyolok dan sangat jelas antara ayam hutan asli dengan ayam hasil silangan (Brugo) adalah adanya periode gugur bulu (moulting) di leher,yang hanya ditemukan pada jenis ayam hutan asli.

Sebagai burung liar, ayam hutan jantan hanya memiliki bulu leher yang sangat lebat, selama musim berbiak/musim kawin saja. Selain musim itu, ayam hutan hanya memiliki bulu leher pendek berwarna hitam (Gambar di bawah, kiri). Ayam Brugo atau ayam kampung tidak pernah mengalami periode gugur bulu leher seperti ini.


Gambar di atas adalah pertumbuhan bulu leher pada ayam hutan asli. Ayam hutan jantan dengan bulu leher pendek berwarna hitam (kiri). Bulu leher yang mulai tumbuh (tengah). Bulu leher yang sudah tumbuh sempurna pada musim kawin (kanan). Ketiga ayam jantan di atas adalah ayam yang sudah dewasa sepenuhnya (bukan ayam muda). Perhatikan bentuk kepala dan jengger kecil yang menjadi ciri khas ayam hutan asli. Sumber:http://redjunglefowl.webs.com/idealspecimens.htm

d. Bulu tubuh dan bulu ekor yang tersusun sangat rapi

Ayam hutan jantan yang asli memiliki susunan bulu ekor yang sangat rapi, teratur dan mengkilap. Hal ini sangat penting bagi pejantan, sebagai modal untuk menarik hati betina. Saat musim berbiak, betina biasanya akan jual mahal dan berusaha mencari pejantan berpenampilan paling trendy dan paling kuat untuk menjamin masa depannya.

Bulu tubuh jantan selalu ditelisik dengan teratur agar tetap rapi dan bersih bebas dari kutu. Warna bulu ekor pun selalu hitam bercampur hijau berkilauan. Bulu di pangkal ekor berwarna putih dan tumbuh lebih lebat.

Pada ayam hutan jantan, 4 pasang bulu penutup ekor yang paling luar (Gambar 4 yang dilingkari garis kuning) akan selalu tumbuh lebih kecil dan selalu lebih pendek dibandingkan bulu ekor utama. Sepasang bulu ekor yang paling atas, akan selalu tumbuh paling panjang dan melengkung, membentuk formasi bulan sabit yang indah.

Berbeda dengan ekor ayam hutan, ekor ayam jantan hasil silangan (ayam Brugo) atau ekor ayam kampung memiliki susunan yang tidak jelas, bahkan cenderung berantakan. Bulu penutup ekor yang terletak paling luar, seringkali tumbuh lebih panjang dari bulu ekor utama. Perbedaan bentuk ekor ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
 Gambar di atas adalah bulu ekor ayam hutan asli (kiri) memiliki susunan yang teratur dan sangat rapi. Bulu penutup ekor terluar (yang tumbuh dekat bulu pangkal ekor yang putih) tidak pernah tumbuh melewati bulu utama. Bulu pangkal ekor yang putih pada ayam hutan asli juga lebih lebat. Pada ayam kampung (kanan), bulu ekor biasanya tumbuh tidak beraturan. Bulu penutup ekor terluar, seringkali tumbuh lebih panjang dari bulu ekor utama.

e. Kaki lebih ramping berwarna abu-abu kebiruan
Ayam hutan jantan yang asli memiliki kaki yang ramping, selalu berwarna abu-abu gelap kebiruan, dengan taji yang meruncing alami dan melengkung indah. Sisik juga lebih halus .Pada ayam hasil silangan (Brugo) atau ayam kampung, kaki umumnya lebih besar dengan sisik yang kasar berwarna kekuningan atau kehitaman. Taji besar dan tumbuh tidak beraturan (Gambar di bawah).


Gambar di atas adalah kaki ayam hutan yang asli (kiri). Kaki ayam hasil silangan (Brugo) atau ayam kampung (kanan). Sumber: http://ayamhutan.tripod.com/junglefowl.html

f. Warna bulu yang lebih cerah dan mengkilap
Keindahan bulu bagi ayam hutan jantan sangatlah penting, dan menjadi salah satu modal utama untuk memikat betina. Warna ayam hutan yang sangat cerah ini, dapat ditemukan selama musim kawin atau musim berbiak.

Berbeda dengan ayam hutan, ayam kampung (ayam domestik) tidak mengenal musim berbiak. Unggas peliharaan ini dapat kawin setiap saat, kapan saja, dimana saja dan dengan siapa saja . Mungkin karena sifatnya inilah, sehingga selama ribuan tahun proses budidaya, dapat dihasilkan ratusan varian ayam dengan berbagai fungsi (petelur, pedaging, ayam hias) yang tersebar di seluruh dunia (bisa dilihat di di http://www.feathersite.com).

Terjaminnya suplai makanan, rasa aman dari pemangsa serta hilangnya sifat mengeram pada sebagian ras ayam domestik, memungkinkan ayam betina untuk bertelur nyaris setiap hari, sepanjang tahun. Ayam betina di dalam kandang sudah tak peduli lagi, apakah pejantan pasangannya termasuk ayam yang ganteng atau tidak, yang penting bisa “melaksanakan tugas” dengan baik. Jadi, dalam hal kawin mawin, bulu yang indah bagi pejantan ayam domestik, sudah tidak diperlukan lagi. Periode moulting atau rontoknya bulu leher pun, tidak dikenali lagi oleh ayam domestik.


Gambar di atas adalah ayam hutan yang sedang minum ini sangat waspada dengan kondisi sekitar. Perhatikan bulu ekornya yang tersusun rapi, serta bulu lehernya yang lebat dan mengkilap.

Beberapa Contoh Ayam hasil silangan (Brugo)

Dari gambar  di bawah ini, dapat dilihat beberapa jenis ayam yang kemungkinan besar adalah hasil persilangan antara ayam hutan dengan ayam peliharaan. Ayam pada gambar di sebelah kiri memiliki pola warna yang menyerupai ayam hutan, namun bentuk tubuh yang gempal dan kakinya yang besar menunjukkan bahwa ayam ini adalah ayam silangan.

Ayam di bagian tengah, juga memiliki postur yang menyerupai ayam hutan, tetapi keberadaan pola totol-totol putih di sekujur tubuhnya menunjukkan, bahwa kemungkinan besar, ayam ini juga termasuk hasil kawin silang.


Gambar di atas beberapa contoh ayam hasil silangan (Brugo). Ayam di sebelah kanan pada gambar di atas, merupakan salah satu ayam hias dari Jepang. Kadang-kadang, ayam Brugo dengan pola warna kuning seperti ini, juga ditemukan pada populasi ayam liar di tepi hutan yang berbatasan dengan pemukiman penduduk.

Ayam Hutan Feral

Di Kepulauan Hawaii dan Cook Island (Pasifik Tenggara), juga ditemukan populasi ayam hutan merah peliharaan yang terlepas dari kandang, dan kemudian hidup liar (feral) di daerah pedalaman. Ciri fisik ayam ini sangat mirip dengan ayam hutan asli. Kemungkinan, dahulunya ayam peliharaan yang terlepas adalah ayam hutan asli yang kemudian kawin dengan ayam setempat, hingga berkembang menjadi populasi ayam liar, seperti yang ditemukan saat ini.

Populasi ayam hutan feral di Kepulauan Cook. Oleh peneliti, ayam hutan ini disimpulkan telah terkontaminasi genetik ayam domestik setempat sehingga dikategorikan sebagai ayam silangan (Crossbred/Brugo). (gambar di bawah ini)


Gambar di atas, dapat dilihat bentuk fisik ayam liar yang sangat mirip sekali dengan ayam hutan asli. Bentuk tubuh yang sedikit gempal pada ayam kiri, jengger yang besar pada ayam jantan sebelah kanan dan adanya jengger pada ayam betina (inset), menunjukkan bahwa ayam hutan ini telah terkontaminasi oleh gen ayam setempat, sehingga sudah tidak murni lagi.

Status Konservasi
Populasi ayam hutan di berbagai negara di Asia cenderung terus menurun akibat perburuan dan degradasi habitat. Namun, ancaman paling utama terhadap populasi ayam hutan adalah munculnya polusi genetik yang diakibatkan oleh terjadinya kawin silang secara alami, antara ayam hutan dengan ayam domestik atau ayam hutan dengan ayam peliharaan yang tidak dikandangkan.

Oleh IUCN, status ayam hutan merah masih digolongkan sebagai Least Concern dalam daftar merah atau beresiko rendah dari kepunahan, karena daerah sebarannya yang luas dan populasinya yang masih cukup besar. Dalam bahasa daerah setempat, ayam hutan disebut Kasintu (Sunda), Ayam alas (Jawa), Ajem alas (Madura), Manuk Kalek (Bugis).

Sub-Spesies Ayam Hutan Me
rah

Berdasarkan daerah sebaran dan morfologinya, William Beebe (1877-1962), seorang naturalis asal New York, Amerika Serikat, dalam publikasi risetnya A Monograph of the Pheasants, ditambah dengan beberapa ahli burung lainnya, membagi ayam hutan merah (Gallus gallus) menjadi 5-6 sub-spesies yang berbeda:


1.    Ayam Hutan Cochin-China (Gallus gallus gallus Linnaues, 1758) 


Tersebar di Vietnam, Laos selatan dan timur, Thailand timur. Ayam ini memiliki bulu leher yang sangat panjang dengan warna merah-jingga hingga keemasan dengan ujung bulu meruncing berwarna jingga. Di tengah bulu terdapat strip tipis berwarna coklat. Cuping telinga umumnya besar dan berwarna putih.

2.   Ayam Hutan Burma (Gallus gallus spadiceus Bonnaterre, 1792)


Tersebar mulai dari Yunnan barat daya (RRC), Burma, Laos utara, Thailand, Semenanjung Malaya hingga Sumatera bagian utara. Sub-spesies ini memiliki ciri yang sama dengan sub-spesies sebelumnya dengan pengecualian pada bulu leher dan cuping telinganya yang berukuran sedang sampai besar berwarna putih atau merah.

3.  Ayam Hutan India (Gallus gallus murghi Robinson dan Kloss, 1920)


Tersebar mulai dari Pakistan timur ke India tengah dan  hingga daerah Assam di timur India. Ciri khas dari subspesies ini adalah adanya strip berwarna hitam yang lebar di tengah bulu leher. Namun, seringkali ayam dengan ciri seperti sub-spesies sebelumnya juga banyak ditemukan di India. Bulu leher ayam hutan India juga sangat panjang, berwarna merah jingga hingga keemasan dengan ujung meruncing berwarna orange (jingga).

4.  Ayam Hutan Tonkin (Gallus gallus jabouillei, Delacour dan Kinnear, 1928)


Tersebar di Guangxi, Kwangtung dan Pulau Hainan (RRC) dan Vietnam bagian utara. Sub-spesies ini dikenali dari bulu lehernya yang pendek,  berwarna merah jingga gelap dengan ujung meruncing dan ukuran jengger/pial dan cuping telinga yang berwarna merah yang kecil.

5.   Ayam Hutan Jawa (Gallus gallus bankiva, Temminck, 1813).


Tersebar di Pulau Sumatera bagian selatan, Jawa dan Bali. Ayam ini termasuk sub-spesies yang paling unik karena bulu lehernya yang pendek, lebar, dengan ujung membulat. Sayap berukuran besar. Bulu lehernya berwarna jingga gelap dengan warna merah yang pendek dibandingkan warna jingganya. Jengger dan cuping telinga berukuran kecil dan berwarna merah. Analisis genetik menunjukkan ayam hutan Jawa merupakan sub-spesies tertua dengan karakter gen yang sangat berbeda dibandingkan dengan sub-spesies lainnya.


6.   Ayam Peliharaan (Gallus gallus domesticus, Linnaeus, 1758)


Dari nama ilmiahnya, ayam hutan merah dan ayam peliharaan masih terhitung satu spesies, bukan 2 spesies yang berbeda. Saat ini, terdapat ratusan kultivar atau varian ayam peliharaan yang tersebar di seluruh dunia. Kultivar atau varian tersebut muncul sebagai hasil seleksi dan budidaya manusia selama ribuan tahun, untuk mendapatkan ayam dengan sifat-sifat unggul yang diinginkan. Ratusan varietas ayam peliharaan dari seluruh dunia, dapat dilihat di situs web: http://www.feathersite.com/.

Penelitian filogenetik yang dilakukan terhadap 3 subspesies ayam hutan merah (G. g. gallus, G. g. spadiceus dan G. g. bankiva) yang dibandingkan dengan spesies ayam hutan lainnya, mendapatkan hasil yang menarik. Ayam hutan merah, ternyata memiliki hubungan yang lebih dekat dengan ayam hutan hijau. Sedangkan ayam hutan abu-abu lebih dekat kekerabatannya dengan ayam hutan Srilangka. Hal tersebut diungkapkan oleh peneliti LIPI, Sulandari dkk (2006) dalam Dywyanto dan Prijono (2007).

Kesimpulan ini, sesuai dengan kenyataan di lapangan yang menunjukkan bahwa secara alami, ayam yang daerah sebarannya lebih dekat, cenderung untuk memiliki hubungan kekerabatan yang lebih erat pula.

Peneliti dari Jepang Fumihito dkk (1994) serta peneliti LIPI Sulandari dkk (2006)  dalam Dywyanto dan Prijono (2007), menyatakan bahwa ayam hutan merah adalah nenek moyang dari ayam peliharaan. Kesimpulan ini didasarkan pada hasil riset terhadap susunan DNA mitokondria ayam peliharaan (ayam ras dan ayam kampung) yang lebih mirip dengan DNA mitokondria ayam hutan merah dibandingkan spesies ayam hutan lainnya. Salah satu berita yang memuat penemuan ini dapat dilihat di www.antaranews. com

Hasil riset juga menunjukkan bahwa ayam kampung yang tersebar luas di Indonesia, memiliki hubungan yang lebih dekat dengan ayam hutan Cochin-China (G. g. gallus) dan Ayam hutan Burma (G. g. spadiceus) dibandingkan dengan ayam hutan Jawa (G. g. bankiva).

kaskus.us
Menurut LIPI, di Indonesia setidaknya terdapat 31 varietas lokal ayam peliharaan. Beberapa varietas lokal yang terkenal, diantaranya adalah: Ayam Kedu/Ayam Cemani (Magelang-Temanggung), Ayam Pelung (Cianjur-Sukabumi), Ayam Sentul (Ciamis), Ayam Banten, Ayam Ciparage (Karawang), Ayam Bali, Ayam Wareng (Jateng-Jatim), Ayam Delona (Klaten), Ayam Balenggek (Sumbar), Ayam Sumatera (populer di Amerika), Ayam Merawang (Bangka), Ayam Gaok (Pulau Puteran-Sumenep), Ayam Nunukan (Tarakan-Kaltim), Ayam Sedayu (Bantul-Jateng), Ayam Tolaki (Kendari), Ayam Tukong (Kalbar), Ayam Kalosi (Enrekang-Sulsel), Ayam Ketawa (Sidrap-Sulsel) dan Ayam Ayunai (Merauke).

Analisis DNA dan analisis Filogenetik yang telah dilakukan oleh Pusat Penelitian Biologi LIPI bekerja sama dengan International Livestock Research Institute di Nairobi, Kenya,  menunjukkan, bahwa ayam lokal Indonesia memiliki ciri dan karakter unik yang sangat berbeda dengan ayam dari negara lain. Dengan demikian, Indonesia termasuk salah satu area yang menjadi pusat domestikasi ayam di dunia, selain China dan India.

Thanks for: yanlegium.blogspot.com